Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Mantan Menkeu Fuad Bawazier: Kasus BLBI ini bisa disebut sebagai sebuah Perampokan pada Negara

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Pansus BLBI DPD RI tengah berusaha untuk menggali berbagai informasi terkait dengan kasus BLBI melalui RDPU dengan Fuad Bawazier selaku mantan Menteri Keuangan (Menkeu) di tahun 1998.

Dalam sambutannya, Ketua Pansus BLBI Bustami Zainudin, yang merupakan senator dari Lampung menyampaikan Pansus ingin lebih mendalami kasus BLBI dari sumber yang kompeten yang memahami tentang kronologis kasus BLBI.

“Terima kasih kepada Bapak Fuad Bawazier yang telah berkenan hadir untuk melakukan RDPU dengan pansus BLBI DPD RI dan perlu kami sampaikan bahwa tujuan kami melakukan RDPU ini adalah untuk mendapatkan informasi secara jelas serta mendalami permasalahan BLBI, dimana Pansus BLBI DPD RI menemukan adanya beban APBN yang berupa obligasi rekap senilai Rp47,78 triliun per September 2022 dalam kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) ini,” papar Bustami.

Membuka paparannya Fuad Bawazier menyampaikan, semasa menjadi Menkeu, pernah berkirim surat kepada Presiden Soeharto terkait dengan BLBI ini.

“Saya sampaikan kepada Presiden dalam surat pada 18 Mei 1998 terkait laporan BPPN yang menyimpulkan jumlah dana yang dipinjamkan kepada 54 bank yang berada di bawah BPPN (yang berarti hutang Pemerintah kepada Bank Indonesia) per tanggal 12 Mei 1998 berjumlah Rp109,5 triliun, dimana hampir 50% nya atau Rp53,4 triliun diberikan kepada 2 bank yaitu BDNI (Rp27,6 triliun) dan Bank Danamon (Rp25,8 triliun),” ungkap Fuad.

“Saya pernah sampaikan juga ketika itu bahwa saya bahagia dengan langkah Panja BLBI (DPR) untuk mengusut kasus BLBI, namun saya juga tetap cemas bahwa langkah pengusutan akan bernasib sama dengan pengusutan-pengusutan BLBI sebelumnya yang kandas di tengah jalan yang salah satu sebabnya adalah pihak yang diusut sangat kuat dengan kekuatan finansial yang mampu membiayai keputusan politik. Saya juga melihat ada ketidakterbukaan mengenai data terkait dengn kasus BLBI ini,” tambah Fuad.

Anggota Pansus DPD RI Fahira Idris, menanyakan tentang pandangan Fuad Bawazier terkait dengan penyelesaian kasus BLBI saat ini yang ditangani oleh satgas BLBI.

“Pencerahan yang luar biasa bagi kami Anggota Pansus BLBI. Saat ini pemerintah membentuk Satgas yang arahnya lebih soft dalam penanganan BLBI ini, kira-kira bagaimana tanggapan Bapak tentang langkah pemerintah dalam menyelesaikan BLBI melalui Satgas ini?,” tanya Fahira.

“Lalu bagaimana tanggapan Bapak tentang perbedaan perhitungan antara obligor dengan pemerintah ini? Apakah tidak menghambat penyelesaian nantinya?,” tambah senator asal Dapil DKI Jakarta ini.

Amaliah, senator dari Sumatera Selatan juga menggali informasi terkait bank penerima BLBI.

“Dari banyak bank penerima BLBI, bank apa yng menerima paling banyak dana BLBI, dan mengapa mendapat paling banyak?,” tanya Amalia.

Sejalan dengan Anggota Pansus lainnya Eva Apita Maya Anggota dari NTB juga menanggapi apa yang disampaikan Fuad Bawazier.

“Sebagaimana tadi yang Bapak sampaikan, yang terlibat dalam kasus BLBI ini adalah orang dengan kekuatan ekonomi besar yang bisa mengalahkan kekuatan hukum dan politik di negara ini, jadi kira-kira bagaimana Langkah untuk menghadapi orang seperti ini?,” tukasnya.

Tamsil Linrung, Anggota Pansus dari Sulawesi Selatan menanggapi tentang paparan Fuad Bawazier mengenai peran IMF dalam penyelesaian krisis tahun 1998.

“Saya melihat tidak ada historical dari IMF ini untuk menangani krisis sebagaimana yang kita alami di tahun 1998 sehingga bisa dikatakan bahwa ada kekuatan yang bermaksud tidak baik bagi Indonesia” kata Tamsil.

Wakil Ketua Pansus BLBI Pangeran Syarif Abdurrahman Bahasyim dari Kalimantan Selatan ingin menggali tentang bagaimana kaitan Budi Hartono dalam kasus BLBI ini.

“Kami telah bersurat kepada Budi Hartono untuk bisa mendapat penjelasan terkait dengan BLBI ini, namun menurut Budi Hartono dalam suratnya, dia tidak ada kaitan dengan BLBI karena kasus BLBI terjadi sebelum Budi Hartono membeli BCA, terkait hal ini apakah sebelum 1998 memang tidak ada kaitannya”, tanya Senator Kalsel yang akrab dipanggil Habib ini.

Dalam tanggapannya, Fuad Bawazier menegaskan, semua yang terkait dengan kasus BLBI adalah kasus pidana, sehingga perlu ketegasan dalam penyelesaian kasus ini secara hukum, perlu penegakan dan ketegasan hukum.

“Ini sudah masuk dalam kategori kriminal,” tegas Fuad Bawazier.

Menutup RDPU, Ketua pansus Bustami menyampaikan apresiasi pada Fuad bawazier yang telah berkenan menyampaikan informasi terkait dengan BLBI. (Daniel)

Tinggalkan Balasan