Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Blak-blakan, Andika Perkasa: Janji Kalau Menikah Harus Pertama dan Terakhir

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa blak-blakan memiliki trauma masa kecil tersendiri yang sangat membekas di kehidupannya.

Hal tersebut diungkapkan Andika Perkasa dalam Podcast yang ditayangkan di akun YouTube CNN Indonesia, dan dibagikan ke Jakartanews, Rabu (12/7/2023).

Trauma yang menyedihkan dan cukup membekas di kehidupannya itu membuat Andika Perkasa memiliki tekad dan prinsip hidup positif.

Andika Perkasa awalnya ditanya soal kemesraannya dengan sang istri yang selalu tampak dan ditunjukkan ke publik.

Istri Andika Perkasa adalah Diah Erwiany Trisnamurti Hendrati Hendropriyono yang merupakan anak perempuan dari Jenderal TNI A.M. Hendropriyono

Andika lalu menceritakan bagaimana ia dan istri terus mesra dan bisa bertahan meski dalam hubungan ada naik turunnya.

“Ada trauma sebenarnya Mas. Ada trauma. Ibu saya itu menikah dua kali. Pernikahan pertama punya tiga anak. Setelah lahir anak ketiga baru tahu, baru denger bahwa suaminya ini sudah punya istri ketiga,” kata Andika Perkasa.

Jadi kata Andika, ibunya tak tahu sewaktu suami memiliki istri kedua sampai istri ketiga. Bahkan saat itu, istri ketiga baru melahirkan anaknya.

“Sehingga Ibu saya pergi bawa tiga anaknya, dititipkan ke orang tuanya. Kemudian cari kerja, dari situlah ketemu ayah saya. Ayah saya single. Jadi saya anak pertama dari ayah saya, tapi anak keempat dari ibu saya,” ujar Andika.

Dalam perjalanannya, Andika berkata, kehidupan ibu dan ayahnya, karena masa lalu sang ibu tidak mudah.

“Ternyata dalam perjalanannya memang tidak mudah. Karena apa, karena ternyata bapak saya tidak ingin anak tirinya, tinggal bersama-sama kami,” lanjutnya.

“Itu sendiri sudah membuat banyak luka. Karena sebagai anak kecil, mereka masih kecil-kecil loh. Mereka kalau kangen ibunya, tapi nggak bisa ketemu. Karena sama ayah nggak boleh,” ujarnya.

Karenanya, kata Andika, ia cukup sering melihat ibunya menangis menahan rindu terhadap 3 anaknya atau 3 kakak tiri Andika.

“Jadi seringkali ibu saya nangis, tapi nangisnya pada saat setelah ayah saya pergi ke kantor gitu. Nangis kangen sama anaknya. Saya melihat itu, begitu ibu saya sudah nggak tahan, begitu liburan sekolah. Mungkin 3 tahun atau 4 tahun sekali, baru anak-anaknya yang tinggal bersama orang tuanya di Blitar dipanggil ke Jakarta, karena lagi liburan sekolah,” beber Andika.

Saat ke 3 kakak tiri Andika berada di rumahnya di Jakarta, sang ibu meminta 3 kakak tiri Andika agar mengambil hati ayah tirinya atau ayah Andika.

“Begitu ke Jakarta, ibu saya sudah minta anak-anaknya ini, untuk seperti pembantu lah. Pokoknya untuk mengambil hati Bapak saya, supaya sayang. Jadi yang disuruh kerja itu ya 3 saudara saya. Di suruh ngepel, nyapu, segala macam lah,” kata Andika.

Namun, sepertinya ayah tetap tidak mau menegur ketiga saudara tirinya.

“Bapak saya tetap nggak mau ngomong. Ngomong aja nggak mau, negur aja nggak mau ya. Saya nggak tahu masalahnya apa. Tapi yang jelas, kan yang jadi korban adalah anak-anak,” kata Andika.

“Mungkin Ayah saya juga merasa, bahwa dia tidak punya tanggung jawab. Saya nggak tahu lah. Itu masalahnya, hanya mereka berdua yang tahu,” tuturya.

Namun dari semua itu Andika menilai anak-anak menjadi korban.

“Dari situ saya melihat bahwa korban itu banyak. Jadi kalau tiga kakak saya dalam pertumbuhannya, kemudian tidak sempurna, akhirnya setelah dewasa pun juga mungkin tidak seperti kami. Karena apa, karena nggak bisa ketemu ibunya,” kata Andika.

“Mau ketemu ibunya, bapak tirinya nggak mau. Mau ketemu ayah kandungnya apalagi, itu ibu tiri lebih berat lagi. Sehingga akhirnya, mereka tidak ada yang membimbing dalam pertumbuhannya. Dan itu yang paling efektif adalah harusnya peran orang tua,” kata Andika.

Menurut Andika ada kesedihan dari dua sisi yakni dari ibunya dan dari 3 kakak tirinya.

“Kesedihan dari dua sisi, ibu saya dengan kakak-kakak tiri saya itulah, yang akhirnya membuat saya berjanji. Kalau saya menikah nanti itu harus pertama dan terakhir. Karena apa, jangan sampai ada korban lagi dan itu kemudian ketemu lah dengan istri saya,” kata Andika.

Menurut Andika pertama kali naksir istrinya, ia merasa dirinya tidak pantas. Sebab istrinya anak Jenderal dan dirinya bukan siapa-siapa.

“Kalau saya naksir, tapi juga kan saya siapa sih. Lain status nya, kelas sudah lain sehingga hanya bisa di dalam hati aja,” kata Andika.

Namun, ternyata ia bertemu kembali di suatu acara. “Saya hanya bisa batin saja, tapi habis itu harus melupakan. Eh nggak tahu berapa tahun kemudian setelah kembali dari Amerika, istri saya ketemu lagi,” ucap Andika.

Saat itulah, ia berani menjalin hubungan dengan sang istri hingga menikah.

“Tapi hubungannya tadi, cerita yang awal, jadi bukannya saya takut. Mesra ini bukannya saya takut ke mertua saya, nggak. Tapi lebih ke trauma pribadi tadi. Saya nikah, ya saya harus bilang ini pernikahan yang pertama dan terakhir,” kata Andika.

Menurut Andika tidak ada tips khusus menjaga keharmonisan dan kemesraan dengan istri atau pasangan.

“Pesan-pesannya, intinya sih kita normal saja. Menjadi diri kita sendiri, nggak usah kemudian apa ya dipaksain. Untuk saya kadang sering juga kita marah-marahan, atau apa ya diam-diam gitu, ya pasti terjadi. Tapi yang jelas memang harus selalu ingat ini, jadi kedua belah pihak harus mengendalikan diri. Sehingga tidak ada kesalahan-kesalahan, yang kemudian membuat pasangan kita benar-benar putus asa,” papar Andika. (Amin)

Tinggalkan Balasan