Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Lolos Skandal BTS, Windu Aji Sutanto Tersandung Perkara Pertambangan Ore Nikel

Sempat Diberitakan Terima Rp75 Miliar

JAKARTANEWS. ID-JAKARTA: Lolos Skandal BTS 4G,  Windu Aji Sutanto tersandung perkara pertambangan ore nikel. 

Bahkan,  terhadap Windu langsung dijebloskan ke Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung usai ditetapkan tersangka.

“Tim Penyidik Kejati Sultra tadi telah menetapkan WAS sebagai tersangka. Demi kepentingan penyidikan terhadap tersangka dilakukan penahanan,  ” kata Kapuspenkum Ketut Sumedana,  Selasa (18/7) malam.

Penetapan tersangka WAS dalam kapasitas selaku Pemilik PT. Lawu Agung Mining (LAW).

Ketut mengatakan pemeriksaan WAS di Gedung Bundar,  Kejaksaan Agung semata demi efisiensi, mengingat WAS berdomisili di Jakarta.

“Sementara WAS dititipkan di Rutan Kejagung untuk kemudian diterbangkan ke Kejati Sultra guna disidik lebih lanjut,” jelas Ketut.

Sebelum ini,  telah ditetapkan 4 orang tersangka,  termasuk Dirut PT. LAW Ofam Sofwan yang sempat ditangkap di Jakarta, karena berstatus buron dan diperiksa di Gedung Bundar.

Tersangka lainnya,  HW (GM PT. Antam Unit Bisnis Pertambangan Nikel Konawe Utara), AA (Dirut PT. Kabaena Kromit Pratama) dan GL (Pelaksana Lapangan PT. LAM)

TEPIS 

Sikap tegas Kejaksaan ini sekaligus menepis Windu sulit dijamah mengingat statusnya sebagai Anggota Tim Sukses Jokowi Untuk Pemenangan Pilpres 2014.

Sebelum ini,  nama WAS  disebut-sebut dalam BAP Tersangka BTS Irwan Hermawan menerima aliran dana guna tidak melanjutkan penyelidikan BTS.

Dalam daftar itu,  WAS bersama Setyo Joko Santosa menerima Rp75 miliar diduga dari Windi Purnama (orang kepercayaan Irwan Hermawan).

“Sudah seharusnya demikian. Kita apresiasi sikap tegas Kejaksaan,” puji Pegiat Anti Korupsi Iqbal D. Hutapea secara terpisah.

ANTAM

Perkara tindak pidana korupsi yang menjerat Windu terkait kerja sama operasi (KSO) pertambangan ore nikel di wilayah Izin Usaha  Pertambangan (IUP)  PT. Antam,  di Blok Mandiodo,  Konawe Utara,  Sulawesi Tenggara (Sultra).

Ketut menjelaskan kerja sama operasi dilakukan oleh PT. Antam (Aneka Tambang) juga dengan Perusahaan Daerah Sultra dan Perusahaan Daerah Konawe Utara.

Modus, menjual hasil tambang menggunakan dokumen Rencana Kerja Anggaran Biaya dari PT. Kabaena Kromit Pratama dan beberapa perusahaan lain di sekitar blok Mandiodo.

Cara itu digunakan untuk mengesankan ore nikel tersebut bukan berasal dari Antam lalu dijual ke beberapa smelter di Morosi dan Morowali.

Praktik yang merugikan negara terus berlanjut karena adanya pembiaran dari pihak PT. Antam.

Padahal,  sesuai KSO, ore nikel hasil penambangan di wilayah IUP Antam harus diserahkan ke Antam.  PT. LAM hanya mendapat upah selaku kontraktor
pertambangan.

Pada kenyataannya,  PT. LAM mempekerjakan 39 perusahaan pertambangan sebagai kontraktor untuk melakukan penambangan ore nikel.

“Lalu, menjual hasil tambang menggunakan Rencana Kerja Anggaran Biaya asli tapi palsu. ” pungkas Ketut. (ahi) 

Tinggalkan Balasan