Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Negara Pluralisme, Lucy Kurniasari Ingatkan Perbedaan dalam Kesantunan

 

JAKARTANEWS.ID – SIDOARJO: Plural artinya beragam, keragaman, perbedaan. Sementara isme berarti sebuah paham. Jadi, pluralisme berarti paham yang menghargai perbedaan baik dari segi agama, ras, maupun etnis.

Jadi, bangsa Indonesia dibentuk berlandaskan pada penghargaan pada perbedaan, yang tidak saja dari segi agama, ras dan etnis, tapi juga mengakomodir perbedaan pandangan.

Demikian disampaikan Anggota MPR RI Lucy Kurniasari saat menghadiri Sosialisasi Empat Pilar dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang dilaksanakan di Sidoarjo, Jumat (21/7/2023) yang diikuti 150 orang peserta dari berbagai latar belakang profesi.

Dalam konteks kekinian, jelas Lucy, perbedaan atau keragaman itu juga tercermin dalam berdemokrasi. “Kita bisa saja berbeda dalam melihat suatu persoalan. Tapi juga tidak menutup kemungkinan pandangan kita sama mengenai suatu persoalan,” kata Ketua DPC Partai Demokrat Kota Surabaya ini.

Meskipun kita menerima perbedaan, tutur Lucy, namun bukan berarti semua perbedaan dapat kita lakukan. “Sebab, di negara demokrasi hanya memberi ruang pada perbedaan yang tidak mengandung permusuhan,” terang Lucy.

Ini artinya, sebut Lucy, perbedaan antagonistis (perbedaan yang memuat permusuhan) tidak diperkenankan dalam negara demokrasi. “Indonesia yang menganut paham demokrasi seharusnya juga menjauhkan diri dari hal-hal yang mengarah pada permusuhan,” imbuh Anggota Komisi IX DPR RI ini.

Tonjolkan Kesantunan

Lucy menuturkan, persoalan permusuhan begitu dominan di Indonesia, setidaknya sejak Pilpres 2019. “Ada dua kubu yang selalu berbeda dalam berpendapat yang cenderung mengarah pada penanaman permusuhan. Masing-masing kubu hanya memuja kandidatnya, dan sebaliknya menghujat yang bukan kandidatnya. Hal terakhir ini jelas mengingkari paham demokrasi,” papar Lucy.

Lucy khawatir, kecenderungan itu juga akan menonjol di Sidoarjo saat mengahadapi Pileg dan Pilpres 2024. “Saling dukung pada masing-masing kandidat adalah bunga dalam berdemokrasi. Dukungan yang jelas dan tegas terhadap satu kandidat perlu disuarakan, termasuk mensosialisasikan kandidatnya di tengah masyarakat agar nantinya terpilih menjadi presiden,” ulas Ning Kota Surabaya 1986 ini.

Lucy mengingatkan, kalau hanya sampai di situ tentu masih dalam koridor perbedaan dalam keragaman yang diterima paham demokrasi, namun yang dikhawatirkan adalah menguatnya upaya menyudutkan kandidat lain yang tidak diusungnya. “Upaya melihat calon lain dari sisi negatifnya saja dan disampaikan dalam nuansa permusuhan tentu tidak sejalan dengan paham demokrasi. Cara-cara seperti ini selain dapat menumbuhkan permusuhan, juga mendegradasikan kualitas demokrasi di Indonesia, khususnya di Sidoarjo,” tegas Lucy.

Karena itu, tambah Legislator asal Dapil Jatim 1 ini, semua anak bangsa agar bersikap jelas dan tegas dalam mengusung dan memenangkan kandidat yang sudah kita tetapkan, namun sampaikan dukungan itu dengan santun agar perbedaan dukungan dan pilihan kita dengan yang lain tidak menimbulkan permusuhan. “Budaya santun ini harus dijunjung tinggi setiap anak bangsa, mengingat hal itu menjadi bagian budaya Indonesia,” pungkas Lucy Kurniasari. (Daniel)

Tinggalkan Balasan