Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26
GLOBAL  

Washington Post Laporkan Perang Rusia dan Ukraina, Negara Paling Banyak Ranjau

JAKARTANEWS.ID – WASHINGTON: Perang Rusia dan Ukraina telah mengubah “negara dengan ranjau paling banyak” di dunia, demikian dilaporkan Washington Post, mengutip data dari Kyiv dan beberapa kelompok pembersihan ranjau kemanusiaan non-pemerintah.

Hampir sepertiga dari wilayah Ukraina telah dipengaruhi oleh pertempuran sengit dan kemungkinan akan membutuhkan operasi pembersihan ranjau yang intens, kata WaPo, pada Sabtu (22/7/2023).

Outlet itu menambahkan bahwa lebih dari 67.000 mil persegi (173.529 kilometer persegi) wilayah Ukraina telah terkontaminasi dengan persenjataan yang belum meledak, menurut think tank GLOBSEC yang berbasis di Slovakia. Luas wilayah itu kira-kira setara dengan luas wilayah Uruguay.

“Jumlah persenjataan yang sangat banyak di Ukraina belum pernah terjadi sebelumnya dalam 30 tahun terakhir. Tidak ada yang seperti itu,” kata Greg Crowther, direktur program di British NGO Mines Advisory Group, kepada Washington Post.

Menurut data PBB, hampir 300 warga sipil, termasuk 22 anak-anak, tewas di Ukraina dalam insiden yang terkait dengan persenjataan yang tidak meledak antara Februari 2022 dan Juli 2023, lapor Post.

Ranjau dan amunisi lain yang tidak meledak juga mengakibatkan 632 warga sipil cedera selama periode yang sama, tambahnya.

Kedua belah pihak yang berkonflik secara aktif menggunakan ranjau dalam operasi mereka, catat outlet media tersebut. Amerika Serikat (AS) juga berkontribusi pada penambangan di wilayah Ukraina dengan memasok Kyiv dengan peluru artileri 155 milimeter yang menciptakan ladang ranjau sementara, meskipun submunisi mereka secara teknis seharusnya menghancurkan diri sendiri, lapor Washington Post.

Persenjataan buatan AS lainnya yang dikirim ke Ukraina adalah ranjau anti-tank M21, yang tidak dapat dihancurkan sendiri, tambahnya.

Keputusan Washington untuk menyediakan Kiev dengan “munisi tandan buatan AS, yang diketahui menyebarkan bahan yang gagal meledak, hanya dapat menambah bahaya,” kata outlet media tersebut sebagaimana dilansir RT.

Menurut beberapa perkiraan, dibutuhkan waktu 757 tahun untuk membersihkan semua persenjataan yang tidak meledak yang tersebar di seluruh negeri, bahkan jika 500 tim penjinak ranjau ditugaskan untuk misi tersebut, lapor Washington Post.

Perkiraan Bank Dunia menunjukkan bahwa biaya operasi ini dapat mencapai USD37,4 miliar hanya dalam sepuluh tahun ke depan, tambahnya.

Washington sejauh ini hanya berkomitmen sekitar USD95 juta untuk operasi ranjau di Ukraina, menurut laporan Departemen Luar Negeri 2023.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian Rosemary DiCarlo memperingatkan Dewan Keamanan PBB bahwa sebagian besar wilayah Ukraina telah dipenuhi ranjau dan bom cluster yang akan “terus menimbulkan bahaya bagi warga sipil selama bertahun-tahun yang akan datang,” pada Jumat (21/7/2023).

Awal pekan ini, duta besar Rusia untuk AS, Anatoly Antonov, mengecam Washington karena mengubah Ukraina menjadi “kuburan” untuk limbah yang mematikan. (Amin)

Tinggalkan Balasan