Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

IKAD: Demokrasi Tanpa Mencabut Akar Kapitalisme Akan Sulitnya Masyarakat Sejahtera

JAKARTANEWS.ID -JAKARTA: Pesta demokrasi yang selama ini digelar di Indonesia tidak membawa perubahan apa-apa bagi kesejahteraan masyarakat. Bahkan, sebanyak 11 kali Indonesia menggelar Pemilu tidak memberikan perubahan signifikan terhadap nasib rakyat. Sebaliknya, terjadi jurang kemiskinan yang tajam.

“Pada Pemilu 2024 sebanyak 12 kali Indonesia menggelar hajatan demokrasi tapi masih kita temukan orang miskin terlantar di pinggir jalan, dan di depan mata kita melihat kemiskinan seperti itu sepertinya dianggap biasa. Padahal Pemilu diadakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tanpa terkecuali,” kata Sekretaris 2 Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara (IKAD) S Maeda Yoppy Nababan, dalam Forum Diskursus Refleksi 78 Tahun Indonesia Merdeka bertajuk “Politik Pemilu dan Masa Depan Kita”, di atas kerja sama IKAD dan Para Syndacate, Jakarta, Jumat (18/08/2023).

Calon Legislatif dari Partai PDIP itu mengemukakan, jika tidak menemukan akar permasalahan kemiskinan maka tidak akan terjadi perubahan bagi kesejateraan rakyat yang dicita-citakan, mencapai masyarakat adil dan sejahtera. Sebaliknya, kemiskinan akan semakin meningkat dan kesenjangan ekonomi antara masyarakat miskin dan kaya semakin menjulang.

Maeda mengemukakan, dalam buku Soekarno tahun 1933, berjudul Indonesia Menggugat disebutkan, akar permasalah kemiskinan yang terjadi adalah kapitalisme. “Tapi sampai saat ini Indonesia masih tergantung dengan investasi modal asing. Padahal, Soekarno melawan kapitalisme dengan menolak modal asing,” ujar tamatan Magister Philosopi STFT Driyarkarya itu.

Lebih lanjut Maeda mengutip dari pernyataan Soekarno, bahwa untuk meraih kemerdekaan pada akhirnya harus melawan kapitalisme atau imprealisme. Namun sayangnya kata-katq tersebut hanyalah slogan bagi para aktifis pro demokrasi dan sosial.

Menurut Maeda, di tengah euforia Pemilu nasional yang digelar di Indonesia semenjak era reformasi kerap terjadi penambahan partai politik baru. Namun, dalam pendirian Parpol tidak membawa perubahan sifnifikan akan nasib rakyat.

“Anggaran Pemilu digelontorkan triliunan negara, tapi hasilnya tidak membuat nasib rakyat berubah. Hal ini terjadi karena Indonesia tidak menyelesaikan akar permasalahan dengan baik,” tukas Calon Anggota DPRD DKI Jakarta daerah Pemiluhan Matraman, Pulogadung, dan Cakung Kota Administrasi Jakarta Timur itu.

Dia mengatakan, Parpol peserta pemilu mayoritas tidak memiliki landasan ideologi. Sehingga tidak heran tidak memberikan solusi atas kemiskinan yang terjadi pada masyarakat.

“Seperti yang dikemukakan Soekarno pada 90 tahun lalu, kita butuh partai berjiwsa pelopor. Namun, sangat disayangkan Negara kita selalu mengandalkan investasi atau modal,” ujar Tenaga Ahli DPR RI Fraksi PDIP itu.

Maeda juga mengatakan, dampak penolakan investasi atau modal asing mengakibatkan terjadinya pemberontakan PRII/Permesta yang dimotori para militer.

“Hingga lengsernya kekuasaan Soekarno terjadi karena adanya peran milietr dan pihak Asing (Amerika/CIA) yang melakukan di balik turunnya Soekarno.

Hadir sebagai pemicara, diantaranya Pengamat Politik Para Sydicate Ari Nurcahyo, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amin Mudzakkir, dan Pengamat Exposit Strategic Arif Susanto.

Dalam kesempatan yang sama, Ari Nurcahyo mengatakan, Pemilu bukan bicara politik negara, akan tetapi lebih untuk kepentingan elit di Indonesia. Tidak heran bila terjebak dengan hal-hal prakmatis.

“Para tokoh menggunakan kendaraan politik yang mapan dan besar di masyarakat. Selain itu, ruang demokrasi kita dibajak oleh elit-elit politik. Politik enginering lebih dikendalikan pemilik modal, dan tidak adanya strategi kebudayaan. Bahkan, pada Pemerintahan Presiden Joko Widodo pertama menekankan revolusi mental, sebaliknya di era Pemerintahan kedua berubah menjadi revolusi Indrastruktur,” ujar Nurcahyo. (Ralian)

Tinggalkan Balasan