Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Budiman Dukung Prabowo, Jamiluddin Ritonga: PDIP Tak Seharusnya Terlalu Reaktif

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: PDI Perjuangan (PDIP) seharusnya tidak terlalu reaktif atas dukungan kadernya Budiman Sudjatmiko kepada capres Prabowo Subianto.

Reaksi Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang terkesan berlebihan justru menunjukkan kepanikan partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Hasto seolah begitu takut kehilangan kader luar biasa yang dapat menenggelamkan pamor PDIP.

Demikian disampaikan Pakar Komunikasi Politik Universitas Esa Ungguli Jamiluddin Ritonga kepada para wartawan, Senin (21/8/2023).

Padahal, ungkap Jamiluddin, Budiman bukanlah sosok menentukan di PDIP. “Dia juga bukan sosok yang mengakar di PDIP,” jelas Dosen Metodologi Penelitian Komunikasi Universitas Esa Unggul, Jakarta ini.

Budiman, sebut Jamiluddin, juga gagal memimpin partai PRD. Dirinya tak pernah berhasil membawa PRD ke Senayan,” cetus Jamiluddin.

Selain itu, tutur Jamiluddin, Budiman juga tidak memiliki basis massa yang besar. “Hal itu terbukti pada Pileg 2019, ia tidak terpilih duduk di Senayan,” ujar Dekan Fikom IISIP, Jakarta 1996-1999 ini.

Jamiluddin menyebut, secara politis tidak ada yang perlu terlalu dihawatirkan atas dukungan Budiman terhadap Prabowo. “Dukungan Budiman itu tidak akan menggembosi suara Ganjar Pranowo, khususnya di Jawa Tengah pada Pilpres 2024,” ulas Jamiluddin.

Selain itu, tambah Jamiluddin, di era demokrasi setiap individu bebas untuk memilih dan dipilih. “Hal itu menjadi hak setiap individu yang dilindungi UU,” tegas Penulis Buku Riset Kehumasan ini.

Jamiluddin menilai, setiap individu juga berhak untuk masuk partai politik yang diinginkannya. “Sebaliknya partai poliitik juga berhak untuk menerima atau menolaknya, termasuk memecatnya,” tukas Jamiluddin.

Karena itu, terang Jamiluddin, di era demokrasi hal biasa orang masuk dan pindah partai politik. “Hal itu bukan aib, sehingga tak perlu dihujat,” ucap mantan Evaluator Harian Umum Suara Pembaruan ini.

Kalau PDIP terlalu reaktif, tambah mantan Sekjen Media Watch ini, maka keuntungan akan diperoleh Budiman. “Nama Budiman yang awalnya biasanya saja, justru akan semakin melambung bila PDIP terus bereaksi berlebihan,” pungkas Jamiluddin Ritonga. (Daniel)

Tinggalkan Balasan