JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Partai Demokrat tampaknya tidak akan kembali lagi ke koalisi Anies Baswedan (KPP). Kemungkinan itu akan terjadi bila di KPP masih ada NasDem.
Demokrat menilai NasDem tidak dapat memegang komitmen. Karena itu, di mana ada NasDem tampaknya Demokrat tidak akan ikut bergabung.
Partai Demokrat bisa saja berkoalisi dengan PDI Perjuangan (PDIP). Peluang itu dapat terwujud bila Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mau melupakan masa lalu.
Demikian disampaikan Pakar Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga kepada para awak media, Kamis (7/9/2023).
Menurut Jamiluddin, kemungkinan itu berpeluang terjadi karena Mega dan SBY mempunyai kepentingan yang sama.
“Mega dan SBY sama-sama ingin menang pada Pilpres 2024,” kata Jamiluddin.
Untuk itu, lanjut Jamiluddin, kedua tokoh ini kemungkinan bersatu untuk mengalahkan Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.
“Kepentingan ini bisa saja mengalahkan persoalan pribadi mereka selama ini,” jelas Dosen Metodologi Penelitian Komunikasi Universitas Esa Unggul, Jakarta ini.
Bahkan, Jamiluddin menilai, tidak menutup kemungkinan Ganjar Pranowo akan diduetkan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Sebab, duet ini juga kompetitif, apalagi bila dihadapkan dengan pasangan Anies-Cak Imin serta Prabowo,” terang Dekan Fikom IISIP, Jakarta 1996-1999 ini.
Namun, jelas Jamiluddin, Partai Demokrat tampaknya sulit berkoalisi dengan Gerindra.
Sebab, terang mantan Sekjen Media Watch ini, Gerindra di dukung partainya Anas Urbaningrum Demokrat tampaknya belum mau berkoalisi dengan capres yang didukung Anas, namun peluang itu jadi terbuka bila Prabowo tidak jadi didukung Anas.
“Jadi, Partai Demokrat tampaknya lebih berpeluang berkoalisi dengan PDIP daripada Gerindra. Apalagi kalau AHY dan Puan Maharani aktif menyatukan kedua partai untuk berkoalisi,” pungkas Jamiluddin Ritonga. (Daniel)