Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Tiga Rekanan Proyek Fiktif Sigma Cipta Caraka (SCC) Dicecar, Tersangka Belum Juga Ditetapkan

Direksi SCC Terus Diuber Keterangannya

JAKARTANEWS.ID- JAKARTA: Urai proyek fiktif di PT. Sigma Cipta Caraka (SCC), Kejaksaan Agung cecar Tiga Dirut Perusahaan Swasta yang diduga terlibat dalam aneka proyek di luar bisnis inti anak usaha PT. Telkom (TLKM) tersebut.

Ketiga Dirut dimaksud adalah, ARR diduga Ade Rachmat Rafli pada PT. PDS diduga Peruri Digital Security (PDS) anak usaha PT. Peruri (Persero).

Lalu, SMK selaku Dirut PT. KMU diduga Karisma Mandiri Utama dan BSLG selaku Direktur Utama PT. PNB diduga Prakarsa Nusa Bakti.

Namun, sampai pemeriksaan selesai status ketiga Dirut dalan perkara yang diduga merugikan negara sekitar Rp318 miliar, masih sebagai saksi dan tidak dicegah bepergian ke luar negeri.

Penetapan tersangka masih butuh waktu.

Kapuspenkum Dr. Ketut Sumedana enggan berkomentar banyak dan tidak menjelaskan mereka tidak dicegah bepergian ke luar negeri.

Dan, tersangka belum juga ditetapkan meski Rekanan Proyek Fiktif milik PT. SCC sudah diperiksa.

“Pemeriksaan ini untuk memperkuat pembuktian sekaligus membuat terang tindak pidana (temukan tersangka, Red),” terangya, Rabu (18/10) malam.

DIREKTUR PENYIDIKAN

Status ketiga perusahaan dalam Skandal SCC diketahui dari keterangan Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kuntadi pada Selasa (3/10).

Dia menyebutkan PT. PDS adalah salah satu perusahaan yang diajak kerjasama untuk Proyek Fiktif, 2017 – 2018.

Proyek dimaksud, adalah Proyek Data Storage, Network Performance & Diagnostic, SEIM dan Manage Service.

PDS bergerak pencetakan meterai elektronik dan lainnya.

Saat ini, PDS yang juga memiliki bank data dan sebenarnya juga bergerak di bidang telekomunikasi.

PDS telah menunjuk tujuh mitra strategis untuk pendistribusian, pemasaran dan penjualan produk digital dan meterai elektronik kepada pengguna akhir.

Diantaranya, PT. MCP Indo Utama, PT. Digital Logistik Internasional, PT. Solusi Nusantara Terpadu, PT. Digital Prima Sejahtera, PT. Citra Mukti Solusindo dan PT. Redphoenix Kreatif Genesis.

Lainnya, Proyek penyediaan server dan storage system dengan PT. PNB diduga Prakarsa Nusa Bakti.

Serta, Penyediaan Network dan Generator dengan PT. KMU diduga PT. Karisma Mandiri Utama.

Secara terpisah, ikut diperiksa RLG selaku Direktur Utama/Komisaris PT Surya Raya Investama (SRI).

Tapi, tidak seperti tiga perusahaan lainnya,
perusahaan SRI belum diketahui keterkaitannya dalam pusaran SCC.

SYARIF ALI IDRUS

Sehari sebelumnya, Kejagung periksa
Direktur PT. SCC inisial SAI diduga Syarif Ali Idrus. Saat itu, Presdir SCC dijabat Iskriono Windiarjanto.

Bersama Syarif ikut diperiksa lima Jajaran Manajemen SCC.

Pada jajaran Direksi SCC saat itu terdapat nama Bakhtiar Rosyidi (Director of Human Capital dan Finance) yang telah dijadikan tersangka Skandal di PT. Graha Telkom Sigma (GTS).

GTS adalah anak usaha SCC (anak usaha Telkom-TLKM).

Bakhtiar juga belakangan mencuat ke permukaan terkait gugatan perbuatan melawan hukum di PN. Jakarta Pusat.

Sebabnya, dalam gugatan disebutkan sejumlah proyek fiktif pada 2017 -2018 senilai Rp 2, 2 triliun.

Tak urung gugatannya membuat Direksi Telkom gundah gulana dengan alasan pada saat itu mereka belum menjabat sebagai Direksi Telkom.

“Saat itu, mereka belum menjabat seperti halnya Menteri BUMN Erick Thohir,” ujar Penasehat Hukum Telkom Juniver Girsang, awal bulan ini.

Dalam perkara yang didaftarkan pada Kamis (9/3/2023) Bakhtiar menggugat Menteri BUMN Erick Thohir dan Dirut TLKM Ririek Ardiansyah.

Berikutnya, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TLKM, Heri Supriadi, Eks. Dirut TLKM periode Desember 2014-Mei 2019, Alex Janangkih Sinaga, Eks. Direktur Keuangan TLKM periode 2016-2020, Herry M. Zen dan pejabat eksekutif TLKM, Joko Aswanto.

Tidak diungkap bentuk perbuatan melawan hukum yang menjadi dasar gugatan, namun diduga terkait proyek fiktif dan rekayasa laporan keuangan pada 2017 – 2018. (ahi)

Tinggalkan Balasan