Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Genjot Keikutsertaan Milenial dan Gen Z dalam Pemilu 2024, Willy Aditya Imbau Parpol dan Politisi Kedepankan Metode Partisipatory

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Sangat penting untuk mendiskusikan partisipasi generasi muda milenial apalagi Gen Z, karena kita hidup dalam gelombang ketiga dari demokrasi yang berbasis participatory. Yang pertama itu adalah generasi pertama athenian democracy yang hanya diikuti kaum filosof, kedua adalah aksi massa, yang ketiga adalah demokrasi menyamping yang jantungnya adalah partisipatory.

Di sinilah kemudian kita berbicara milenial, berbicara gen Z, khususnya anak muda jangan hanya semata-mata kita berbicara kuantitatif, walaupun pemilu suatu rezim yang sangat kuantitatif.

Demikian disampaikan Anggota Baleg DPR RI Willy Aditya saat menjadi narasumber Diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema “Membedah Partisipasi Milenial dalam Pemilu 2024” di Ruang Diskusi Media Center, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/10/2023).

Menurut Willy, semua pihak harus membaca fenomena ini dari perspektif sosiohistoris.

“Dalam perspektif sosiohistoris, Indonesianis bernama Ben Anderson meletakkan revolusi Indonesia merupakan revolusi kaum muda. Ben Anderson mengatakan revolusi di Inggris digerakan oleh para orang orang yang berkepala botak, maka di Indonesia digerakan oleh kaum muda,” ujar Willy.

Willy pun mengajak semua pihak termasuk media sebagai institusi politik untuk tidak terlalu sibuk mengurus kontestasi yang itu hanya terjadi sekali dalam 5 tahun.

Willy mengingatkan, salah satu masalah yang dihadapi Indonesia adalah Party-ID yang cukup rendah.

“Party-ID kita maksimal cuma 12%, itu pekerjaannya” beber Politisi Partai NasDem ini.

Oleh karenanya, Willy mempertanyakan, mengapa Indonesia tidak membuat kanal-kanal bagi para Milenial dan Gen Z.

“Apa kanal yang paling utama, kalau yang menjadi keresahan mereka satu hal yang bersifat personal seperti lapangan pekerjaan, menjadi suatu ekspresi yang sangat berkaitan langsung, perubahan iklim ekologis seperti sekarang Jakarta begini, sangat terasa sama mereka,” jelas Willy.

Willy mengatakan, preferensi Gen Z lebih dominan bersifat personal live karena terbangun melalui algoritma.

“Ini agak berbeda dengan tipologi yang milenial. Milenial masih mengecap media mainstream seperti kawan-kawan, karena lahir pada 1998 dan masih melihat televisi itu tapi sekarang itu sudah dibalap oleh sosial media,” ujar Willy.

Willy pun mengimbau media membuat kanal-kanal tersebut, karena apabila tidak, maka para Milenial dan Gen Z hanya terjebak dalam pesta-pesta demokrasi tanpa agenda.

“Yang paling penting ketika mereka resah, tentang yang namanya lapangan pekerjaan, agendanya apa, ini yang paling penting, maka kemudian dibutuhkan pemimpin yang bisa berdialog dalam konteks itu, tidak hanya terbiasa bergimik ria semata,” imbuh Willy.

Untuk menyusun agenda termasuk media, saran Willy, jangan terjebak pada hal yang paling akut itu karena yang dijual memang diri dari pemimpin tersebut.

“Mau pilpres mau pileg itu banci tampil semua, oleh karenanya kita geser agenda dan metodologinya kita geser. Ayo bersama-sama kita susun agendanya seperti apa, karena apa, inilah yang kemudian membangun tatakan bagaimana demokrasi kita mau maju, mau sehat dan mau berkembang,” papar Legislator asal Dapil Jatim 11 ini.

“Jadi teman-teman semua, mereka menginginkan perubahan tapi perubahan bukan hanya sekedar jargon dan retorika, tapi sejauh apa kita sama-sama membangun kanal-kanal dialogis yang benar-benar partisipatory. Jadi bukan suatu hal, oh nanti ketika nanti saya berkuasa, saya akan buat lapangan pekerjaan,” pungkas Willy Aditya. (Daniel)

Tinggalkan Balasan