Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Emrus: PDIP Punya Garis Ideologis, Bukan Seperti Partai Lain Sarat Pragmatis

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Beberapa pekan terakhir ini wacana publik tercurah pada agenda politik pemasangan calon presiden-wakil presiden Pemilu 2023. Terkait pemasangan tersebut, ada sementara orang tertentu menengarai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) seolah bermain “dua kaki”. Pandangan tersebut sangat tidak mendasar dan tidak mengenal partai PDIP secara komprehensif.

Orang tersebut mencoba membangun narasi seolah PDIP bermain “dua kaki”, dengan mengatakan tidak bakal mendepak anak sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming, dari keanggotaan partai setelah diusung menjadi bakal cawapres Prabowo Subianto. Jika hal itu dilakukan oleh PDI-P maka dinilai bisa menutup peluang partai itu masuk kembali ke lingkar kekuasaan, jika pasangan Prabowo-Gibran memenangkan pemilihan presiden (Pilpres) 2024, (kompas.com, 25 Oktober 2023).

Demikian disampaikan Komunikolog Indonesia Emrus Sihombing kepada para wartawan, Rabu (25/10/2023).

Menurut Emrus, orang yang membangun narasi tersebut tidak paham betul karakter politik PDIP selama ini. “Secara ideoligis, PDIP punya pendirian politik yang tegas, sebab partai ini lahir dan dibesarkan dari sebuah perjuangan kerja keras dengan tetesan air mata dan darah. Itu nyata,” tutur Emrus.

Karena itu, lanjut Emrus, dari aspek komunikasi politik motif narasi yang dikembangkan oleh orang tersebut bertujuan menggiring opini publik untuk kepentingan politik pragmatis. “Katanya, jika Gibran tidak dipecat, PDI-P seolah bermain “dua kaki”, tapi kalau Gibran dipecat, kelompok kekuatan politik akan mainkan politik “playing victim” sebagai orang yang dizolimi. Ini dapat disebut sebagai politik jebakan batman,” ujar Founder GoGo Bangun Negeri ini.

Sekarang ini, ucap Emrus, Gibran sudah menjadi realitas politik sebagai bakal calon wakil presiden yang diusung sejumlah partai lain. “Karena itu, sebaiknya secara satria Gibran yang justru mengajukan mundur diri partai awalnya,” imbau Emrus.

PDIP, tegas Emrus, sangat jelas garis politiknya karena lahir sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintahan otoriter Orde Baru (Orba). “Tidak satu partaipun di Indonesia yang setegas dan seberani PDIP. Sebaliknya, bahkan tidak jarang beberapa partai politik menunjukkan politik pragmatisnya,” ulas Emrus.

“Lihat saja Probowo dengan Partai Gerindranya, pada Pilpres 2019 mengambil posisi kompetitor bagi Jokowi yang diusung PDIP. Pemilu 2019 PDIP menang di Pileg dan Pilpres yang membuat Jokowi menjadi presiden dua periode,” lanjut Dosen Pasca Sarjana Fikom UPH, Tangerang ini.

Probowo pun, kata Emrus, turun posisi dari kompetitor yang setara dengan Jokowi pada Pilpres 2019, rela dan serta merta menjadi pembantu Jokowi di pemerintahan. “Justru sikap dan perilaku politik semacam ini belum mempunyai garis yang tegas secara ideologis. Sejatinya, Prabowo dan Partai Gerindra berada di luar kekuasaan sebagai oposisi bagi pemerintahan Jokowi,” tegas Emrus.

Sebab, jelas Emrus, peran oposisi sama mulianya dengan pemerintah bagi rakyat. “Oposisi bisa melakukan kontrol terhadap kekuasaan, tapi acapkali ada partai politik dan aktor politik tertentu masih lebih baik memilih “menghambakan” diri terhadap kekuasaan,” tukas Emrus.

“Sikap dan perilaku politik semacam ini dipastikan merusak tatanan demokrasi kita di negeri ini yang diperjuangkan oleh seluruh komponen bangsa terutama gerakan mahasiswa tahun 1998 dengan tagisan dan air mata, bahkan masih ada aktivis belum kita ketahui di mana rimbanya,” sambung Emrus.

Emrus menambahkan, PDIP bukanlah partai yang berdiri di atas politik pragmatis. Lihat masa pemerintahan SBY dua periode, PDI-P mengambil garis posisi yang tegas di luar pemerintahan (opisisi). “Karena itu, partai ini berani nenjadi oposisi, dan mengabdi untuk rakyat ketika menjadi pemenang legislatif dan eksekutif, baik nenemoatkan kadernya sebagai kepala daerah dan presiden,” pungkas Emrus Sihombing. (Daniel)

Tinggalkan Balasan