Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Detail Kekurangan Produk Toyota Innova Reborn Disorot Konsumen, Ini Faktanya

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Tak semua produk otomotif mentereng atau mempunyai kelebihan seperti yang dipromosikan produsen. Akan tetapi, pastinya mempunyai kekurangan. Kali ini mendapat keluhan dari seorang konsumen bernama Elnard Peter.

Pria yang akrab disapa Peter itu mengatakan telah dua kali membeli produk Toyota Innova “Reborn” tahun 2020 dan 2021. Akan tetapi mobil dengan plat B 1218 SSP dan B 2664 SRO itu diduga tidak memenuhi spesifikasi standar.

“Dua kali membeli produk Toyota Innova “Reborn” dengan kondisi ketidaknyamanan pada stir yang sudah teridentifikasi berasal dari sudut SAI (Steering Axis Inclination) yang tidak memenuhi spesifikasi standar,” kata Peter kepada para wartawan, Selasa (23/1/2024).

Peter pun merinci bahwa repair manual Toyota Innova “Reborn” memuat spesifikasi standar sudut SAI 10° 54’ +/- 0° 30’ untuk type TGN140R dengan spesifikasi ban 205/65R16 yang terpasang pada velg 6Jx16 ET50 dan tekanan angin 33 PSI.

“Jika spesifikasi sudut SAI itu diuraikan menjadi minimal, ideal dan maksimal maka minimal 10° 24’ (sepuluh derajat dua puluh empat menit), idealnya 10° 54’ (sepuluh derajat lima puluh empat menit) dan maksimal 11° 24’ (sebelas derajat dua puluh empat menit),” jelas Peter.

Namun faktanya, kata Peter, hasil pengukuran dari kedua unit baru yang diterima dari dealer Toyota konsisten bahwa kedua roda depan masing-masing unit memiliki Sudut SAI yang tidak mencapai 9° 55’ (sembilan derajat lima puluh lima menit).

“Artinya kemiringan SAI kurang hingga 30 menit dari baku mutu minimalnya yaitu 10° 24’ (sepuluh derajat dua puluh empat menit),” jelas Peter.

Sudut SAI sendiri, terang Peter, adalah sudut diagnosa yang pada dasarnya digunakan sebagai acuan saat kendaraan sedang menjalani perbaikan paska kecelakaan.

“Hal tersebut untuk menilai apakah kondisinya sudah sesuai spesifikasi standar atau masih memerlukan penggantian komponen suspensi. Maka saya sangat heran mengapa produk terlaris Toyota kondisinya begini keluar dari pabrik?,” ucap Peter.

Peter menjelaskan, sudut SAI membentuk area scrub radius atau bidang gesek pada ban yang jika membentang lebih dari 5 milimeter akan berpengaruh langsung kepada “handling” atau kenyamanan berkendara.

“Kestabilan stir terutama dalam hal kemampuan stir untuk mempertahanakan kelurusan pada jalan bergelombang, basah, miring atau pun saat melewati lubang. Tentunya kondisi produk yang tidak sesuai Spesifikasi Sudut SAI akan menimbulkan keausan yang tidak merata pada tapak kedua ban depan,” tutur Peter.

Peter melanjutkan, scrub radius disebut positive scrub radius bila Sudut SAI berada pada rentang minimal dan ideal, kemudian akan disebut zero scrub radius bila sudut SAI di zona ideal. Sedangkan negative scrub radius saat sudut SAI berada diantara zona ideal dan maksimal.

Peter mengatakan, prinsip dasar geometri roda untuk kendaraan penggerak roda belakang (RWD) seperti Toyota Innova umumnya datang dari pabrik dengan “default setting” positive scrub radius. Sudut SAI berada direntang Minimal dan Ideal dan kondisi kincup ban berbentuk “Toe In”.

“Kincup kedua roda depan mengarah ke dalam karena memberikan keamanan, kenyamanan dengan handling optimal. Di mana kedua aspek itu memang dinyatakan demikian dalam Repair Manual untuk produk Toyota Innova TGN140R yang diterbitkan oleh Toyota Motor Corporation, Jepang, yang semestinya produk dalam kondisi demikian yang saya terima” papar Peter.

Peter pun mengambil contoh sudut SAI produk otomotif kelas kendaraan penumpang yang diproduksi setelah tahun 1950. Produk yang memiliki anatomi susunan suspensi depan mengadopsi SLA (Short Long Arm) atau yang dikenal dengan double wishbone umumnya keluar dari pabrik dengan sudut SAI diatas 10° 30’ (sepuluh derajat tiga puluh menit).

“Karena memang didesain untuk beroperasi dengan kecepatan tinggi, sehingga bilamana alami ban depan pecah tidak akan menimbulkan resiko kecelakaan karena kendaraan tidak akan oleng dan tetap mampu mempertahankan kelurusannya sehingga bisa dikendalikan dengan aman hingga berhenti,” tegas Peter.

Peter juga mengilustrasikan pengujian dinamika kendaraan vehicle dynamics. Sudut SAI yang hanya 9,55 mengindikasikan bahwa scrub radius pada bidang masing-masing ban depan sudah melampaui 5 milimeter.

Hal tersebut, papar Peter, bisa dikategorikan kondisi tidak aman dan terbukti tidak nyaman digunakan yang dengan mudah dibuktikan secara saintifik berbasis komparasi. Dalam hal ini tidak terbatas dengan merujuk protokol vehicle dynamics sesuai ISO15037-1:2019 tetapi mencakup juga paket pengujian sesuai keluhan pada stir yaitu ISO 4138, ISO 7401, ISO 13674-1, ISO 17288-2 dan ECE 13H dengan produk pembanding Toyota Innova TGN140R yang memenuhi spesifikasi sudut SAI.

“Sayang sekali ahli otomotif yang dihadirkan dalam persidangan oleh pihak Toyota belum memahami Pengujian dinamis bahkan menyatakan bahwa penyetelan sudut geometri roda (spooring) adalah pengujian statis,” jelas Peter.

Padahal, kata Peter, beban pembuktian dalam gugatan konsumen menjadi beban pelaku usaha, khususnya pembuktian yang relevan dan sahih soal keamanan penggunaan produk dalam kondisi yang tidak sesuai spesifikasi standarnya.

“Apalagi sekarang kita berada pada era standarisasi dan sertifikasi, masa membuktikan tanpa pengujian?,” heran Peter

Menurut Peter, hak konsumen untuk mendapatkan keterangan yang jujur dari pelaku usaha atas kondisi produk yang dibeli. Apalagi sudah terbukti sudut SAI tidak memenuhi spesifikasi standar.

“Bukankah spesifikasi standar itu sepatutnya melekat dengan produk yang dibeli dan produk yang sesuai spesifikasi standar yang semestinya saya terima? Dalil-dalil mereka selalu menyesatkan karena disampaikan kepada saya untuk menyembunyikan kondisi pada kedua produk yang saya terima. Bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi pada semua produk terlaris Toyota Innova Reborn,” tukas Peter.

Produk otomotif yang disorot Peter telah menjadi persoalan hukum. Peter telah menggugat perbuatan melawan hukum (PMH) atas pembelian unit Toyota Innova “Reborn” yang kedua terhadap Produsen PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Distributor PT. Toyota Astra Motor dan Agen PT. Astra Internasional di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel). Gugatan dengan nomor perkara 491/Pdt.G/2023/PN JKT. SEl itu didaftarkan pada Senin, 29 Mei 2023.

Gugatan tersebut telah mendapat respon dari pihak tergugat. Tergugat I dari PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia dalam dupliknya meminta hakim menolak gugatan penggugat. Sebab penggugat I menilai, dalil-dalil dalam gugatan tersebut tidak relevan, tidak konsisten dan saling bertentangan.

Sementara Tergugat II dari PT. Toyota Astra Motor dalam dupliknya menyebut gugatan penggugat tidak tidak berdasar. Penggugat disebut tidak mampu menguraikan permasalahan nyata apa yang dialami pada kendaraan Penggugat.

Penggugat juga disebut tidak dapat memberikan penjelasan teknis mengenai hubungan angka SAI dengan “perilaku” steer. Penggugat bahkan gagal menguraikan apa “perilaku” steer yang dimaksud karena sebagai benda mati sudah tentu steer tidak memiliki “perilaku”:

Sedangkan tergugat III dari PT. Astra Internasional dalam dupliknya menyebut secara hukum dalil yang disampaikan penggugat yang menyatakan kendaraan miliknya terdapat “cacat tersembunyi” merupakan dalil premature yang sesat dan menyesatkan.

“Karena bagaimana mungkin dapat diketahui adanya cacat tersembunyi sedangkan kendaraan yang bersangkutan adalah dalam kekuasaan dan pemakaian oleh penggugat sendiri,” bunyi duplik itu. (Daniel)

Tinggalkan Balasan