Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Tiktok dan Kurangnya Kinerja Otak Manusia

JAKARTA: Cukup unik rasanya jika kita melihat perkembangan TikTok di Indonesia dibandingkan dengan beberapa negara yang memilih untuk memblokir TikTok dari negara mereka. Sebut saja Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa, Inggris sampai negara tetangga Indonesia yaitu Australia dan masih banyak lagi.

Alasan negara tersebut beragam, namun pada awalnya kita akan mendapati alasan keamanan terhadap akses data pribadi penduduk negara terkait. Walau begitu, masih ada persoalan lain yang menyebabkan TikTok diblokir dari beberapa negara seperti dugaan penyebab kinerja otak manusia bahkan spionase.

Ada apa dengan Indonesia? TikTok kini menjadi sebuah aplikasi yang “istimewa” di masyarakat Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari hasil survei Data Indonesia yang menunjukkan bahwa ada 113 juta pengguna TikTok di Indonesia.

Fakta ini sangat disayangkan jika kita melihat TikTok sebagai sarana perusak moral, nalar, bahkan mental. Indonesia tampaknya sangat santai dengan persoalan tersebut dan seakan tidak memiliki kecemasan yang dicemaskan oleh masyarakat global.

Fakta ini sangat disayangkan jika kita melihat TikTok sebagai sarana perusak moral, nalar, bahkan mental. Indonesia tampaknya sangat santai dengan persoalan tersebut dan seakan tidak memiliki kecemasan yang dicemaskan oleh masyarakat global.

Algoritma TikTok inilah yang merusak kinerja otak manusia karena sangat “memudahkan” manusia mengakses sesuatu. Dari sini kita juga dapat berkaca bahwa tidak semua sesuatu yang memudahkan memiliki dampak yang baik.

Bahkan dalam sebuah jurnal riset lingkungan dan kesehatan publik berjudul Research on Adolescents Regarding the Indirect Effect of Depression, Anxiety and Stress between TikTok use Disorder and Memory Loss oleh Peng Sha dan Xiaoyu mengatakan bahwa TikTok secara intensif akan mengakibatkan penurunan kinerja otak dan secara khusus melemahkan kemampuan mengingat.

TikTok sebagai Candu

Jika kita pernah mendengar TikTok is The Next Opium yang dikatakan Dr. Irawan Nugroho dalam sebuah video di kanal Youtube miliknya yang membahas soal TikTok maka opium yang dimaksud adalah bagaimana masyarakat menjadikan TikTok sebagai candu.

Dalam sebuah penelitian berjudul Kecanduan TikTok Bisa Picu Penurunan Kognitif Otak oleh dr. Fadhli Rizal Makarim disebutkan bahwa kecanduan TikTok dipengaruhi kuat oleh konsep For Your Page (FYP). Hal ini dapat membuat pengguna TikTok secara terus menerus mengkonsumsi secara intens hal-hal yang menarik minatnya. Dalam TikTok, video pendek yang disukai pengguna akan terus masuk ke halaman FYP dan membuat pengguna terus menonton.

Hancurnya Realitas Manusia

Dengan sifat candu pada TikTok, media sosial yang satu ini juga menawarkan kita pada konsep dunia “maya” yang dapat menghadirkan kebahagiaan namun berbalik dari realitas. Jika pada dunia nyata konsep hidup manusia adalah berjuang untuk berhasil maka TikTok menawarkan keberhasilan tanpa perjuangan namun tidak pada dunia nyata.

Dr. Julie Albright, seorang spesialis budaya digital dan komunikasi dalam membedah pertanyaan “Mengapa banyak orang kecanduan aplikasi TikTok?” menyebutkan bahwa TikTok menampilkan konten yang menarik bagi dopamin dan membuat penggunanya kecanduan, akhirnya pengguna TikTok tidak memperhatikan dunia nyata. (*)

Penulis: Deni Afaathir Djumardillah.

NPM : 233516516148

Prodi: Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unas.

Exit mobile version