Deprecated: Creation of dynamic property WpBerita_Breadcrumbs::$settings is deprecated in /home2/jakartane/public_html/wp-content/themes/wpberita/inc/class-wpberita-breadcrumbs.php on line 26

Soal Putusan MA Terkait Batas Usai Cagub-Cawagub, Formappi: Sama Seperti MK

JAKARTANEWS.ID – JAKARTA: Perubahan peryaratan calon kepala daerah khusus terkait persoalan usia yang diputuskan Mahkamah Agung (MA) nampaknya mengingatkan semuanya akan kisah serupa yang terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK) ketika memutuskan permohonan uji materi terkait syarat usia pencalonan presiden dan wakil presiden.

“Baik MA maupun MK sama-sama memutuskan persyaratan usia calon menjelang akan dibukanya pendaftaran calon presiden-wakil presiden maupun kepala daerah,” kata peneliti Formappi Lucius Karus, Jumat (31/5/2024).

Walau didasarkan pada permohonan pihak tertentu, menurut Lucius sulit untuk membantah keputusan MA maupun MK memang terkait dengan keberadaan calon yang berniat maju tetapi terhambat dengan persyaratan usia calon.

Jadi, lanjut Lucius, keputusan soal syarat calon ini bukan karena MK maupun MA memiliki basis argumentasi teoritis dan yuridis soal rentang usia yang tepat bagi para calon.

“Sama seperti DPR saat memutuskan syarat usia dalam norma maupun KPU ketika menyusun PKPU, MA, dan MK nampaknya menggunakan pertimbangan subyektif semata,” ujar Lucius.

“Ya bisa jadi karena para hakim tahu siapa yang akan diuntungkan oleh perubahan syarat itu, sehingga mereka akhirnya membuat keputusan baru,” sambung Lucius.

Lucius menuturkan, syarat usia untuk menjadi pemimpin memang tak ada dasar teoritisnya.

Dalam hal tertentu, tutur Lucius, siapapun bisa menjadi pemimpin, tua-muda, dewasa-anak-anak.

“Yang menentukan kepemimpinan seseorang bukan terutama soal usia, tetapi kapasitas, kapabilitas, integritas, dan pengalaman. Karena itu penentuan batas usia dalam proses pencalonan ketika DPR membuat UU pasti melalui forum lobby hingga menghasilkan kompromi,” terang Lucius.

“Jadi batasan 30 tahun untuk calon gubernur dan wakil gubernur maupun 25 tahun untuk calon bupati.walikota beserta wakil adalah angka kompromistis,” lanjut Lucius.

Tentu saja, ucap Lucius, angka-angka ini memang bisa dirubah tetapi ya seharusnya forumnya itu bukan di MA atau MK.

“Juga tak bisa setiap menjelang pemilu atau pilkada. Keputusan batas usia itu dimaksudkan agar ada waktu persiapan kader di partai untuk posisi-posisi di kekuasaan,” tambah Lucius.

Lucius menjelaskan, kalau setiap pemilu aturan UU dirubah oleh MK atau MA maka bisa dikatakan kedua lembaga itu sama-sama menyumbang ketidakpastian hukum dalam proses pencalonan.

“Karena MA maupun MK tak berani mencoret angka usia yang tercantum dalam UU tetapi membuka opsi baru untuk memastikan calon yang tidak mencapai batasan minimal usia tetap bisa diikutsertakan dalam kontestasi. Jadi aturan yang diputuskan MK atau MA bisa saja diubah lagi di Pemilu atau Pilkada selanjutnya,” tegas Lucius.

Karena keputusan terkait usia ini, ucap Lucius, tidak bisa tidak terkait langsung dengan kepentingan figur tertentu.

“Maka keputusan ini tidak menyumbang sesuatu pada penguatan sistem, penguatan demokrasi, penguatan kepastian hukum dan lain-lain. Ini semata-mata hanya mau melapangkan jalan figur tertentu saja, dan untuk even Pilkada nanti nampaknya Kaesang yang akan menjadi penerima manfaatnya,” pungkas Lucius Karus. (Daniel)

Tinggalkan Balasan